Rembang, Sejumlah siswa pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Rembang mulai sadar diri. Beberapa siswa yang semula mengaku miskin di beberapa sekolah kini memilih untuk merngundurkan diri.

Seperti yang terjadi di SMA Negeri 2 Rembang, tim bentukan sekolah melakukan survey terhadap setiap siswa ber-SKTM. Hasilnya, sejumlah siswa yang diketahui kaya, memiliki rumah bertingkat dan mobil, namun melampirkan SKTM pada PPDB.

“Akhirnya, siswa itu karena sudah kedapatan berbohong, kita minta untuk memundurkan diri. Kalau tidak mau ya kita laporkan. Akhirnya mereka mengundurkan diri,” jelas Sumarno, Kepala SMA Negeri 2 Rembang.

Hal serupa terjadi di SMA Negeri 1 Rembang. Terdapat siswa yang kedapatan mampu tapi mengaku tidak mampu. Diketahui saat pihak sekolah melakukan survey.

“Ada dua siswa yang kedapatan seperti itu, sehingga, satu siswa memutuskan untuk menarik lagi lampiran SKTM-nya tapi tetap mendaftar, karena dia juga ada di peringkat atas. Satunya mengundurkan diri,” jelas Kepala SMA Negeri 1 Rembang, Djupri saat ditemui di kantornya, Selasa (10/7/18).

Mengetahui hal itu, sejumlah siswa yang tanpa diminta, memilih untuk mundur. Mereka mengaku tidak berhak menggunakan SKTM dalam proses PPDB. Padahal, SMA Negeri 1 Rembang sendiri tergolong sekolah favorit di Rembang.

“Kemarin ada memang sejumlah siswa yang awalnya melampirkan SKTM, tapi kemudian mengundurkan diri. Ya karena memang mereka sadar tidak berhak pakai SKTM,” terangnya.

Sumber : nurfmrembang.com

Rembang, Tak kurang dari 120 orang guru dari 14 Kecamatan se Kabupaten Rembang, mengikuti pelatihan pendidikan karakter secara bersambung, di sanggar budaya kompleks pendopo museum RA Kartini Rembang, Rabu (18/7/18).

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk menggunakan dana CSR program bakti pada guru. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, panitia penyelenggara menggandeng fakultas psikologi Universitas Diponegoro (Undip) selaku narasumber dalam pelatihan tersebut.

Pemateri dari dosen fakultas psikologi Undip, Hastaning Sakti menyebutkan, para peserta pelatihan akan diberikan edukasi terkait kondisi psikologinya masing-masing. Selain diarahkan terkait cara mengajar yang benar, namun para guru juga diberi wawasan bagaimana cara mengukur kemampuan diri.

“Jadi ada pengenalan diri, tentang pancasila, kemudian ada juga pelatihan regulasi emosi, cinta Indonesia, ada juga prestatif, berinisiatif dan banyak lagi. Secara garis besar ini soal penguatan karakter sesuai Perpres 18 2017,” jelasnya saat ditemui, Rabu (18/7/18).

Bupati Rembang Abdul Hafidz yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyebut, pentingnya pelatihan tersebut diikuti para guru karena memiliki nilai yang positif. Ia memaparkan, berdasarkan hasil survey di Jawa Tengah, 70 persen dari total seluruh guru yang ada mengalami stres.

“Kenapa ini dilakukan, bukannya guru sudah lebih pengalamannya ketimbang yang lain. Tapi kenapa hari ini baru kelas 1 dalam pendidikan karakter. Ada persoalan, hasil survey di Jateng ini, 70 persen guru itu stres. Kenapa stres, karna guru juga merangkap, dibebani pula dengan tugas administrasi, bukan melulu tentang mengajar. Sehingga pendidikan karakter ini sangat penting, apalagi ini ada kaitannya dengan psikologi,” jelas Bupati.

Sementara itu, Andi Magdalena Siadari, Sekjen Charoen Pokphand Foundation bidang Pendidikan menyebutkan, selain di Rembang, kegiatan tersebut juga telah diselenggarakan di sebanyak 14 tempat lainnya, seperti di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur. Hingga saat ini termasuk Rembang, program yang sama telah diikuti total sebanyak 1.091 guru se Indoneisa.

Sumber : nurfmrembang.com